Friday, November 7, 2014

Smart City



Perencanaan  Smart  City  adalah   agenda  global  sebagai  respon  konseptual dan  praktis  terhadap  berbagai  krisis  perkotaan  di  dunia  yang   semakin mengkhawatirkan,  untuk  mengembalikan  hubungan  antara  manusia,  ruang  binaan dan  ruang  alami  yang  lebih  harmonis,  sehingga  tidak  saling  menyakiti.  Melalui Smart  City,  tujuan-tujuan  pembangunan  perkotaan  berkelanjutan  dapat  dicapai secara sistematis dan bertahap dengan perspektif jangka panjang.
Asumsi  dasar  yang  digunakan  sehingga  pemikiran  mengenai  Smart  City layak untuk dikedepankan menyangkut hal-hal berikut :
a.        Kota-kota  Indonesia  perlu  secara  cermat  mengatasi  persoalan  ledakan penduduk  perkotaan  akibat  urbanisasi  yang  brutal,  tidak  tertahankan, apabila kita berharap bahwa kota-kota tersebut dapat menjadi layak huni di  masa  mendatang.  Salah  satunya  adalah  dengan  pengendalian  jumlah penduduk  dan  redistribusinya,  serta  peningkatan  kualitas  pelayanan publik.

b.      Krisis  perkotaan  dapat  kita  hindari,  sebagaimana  yang  terjadi  di  kotakota  besar  dan  metropolitan  yang  telah  mengalami  obesitas  perkotaan, apabila  kita  mampu  menangani  perkembangan  kota-kota  kecil  dan menengah  secara  baik,  antara  lain  dengan  penyediaan  ruang  terbuka hijau,  pengembangan  jalur  sepeda  dan  pedestrian,  pengembangan  kota kompak, dan pengendalian penjalaran kawasan pinggiran.
Smart city adalah sebuah impian dari hampir semua Negara di dunia. Dengan smart  city,  berbagai  macam  data  dan  informasi  yang  berada  di  setiap  sudut  kota dapat  dikumpulkan  melalui  sensor  yang  terpasang  di  setiap  sudut  kota,  dianalisis dengan  aplikasi  cerdas,  selanjutnya  disajikan  sesuai  dengan  kebutuhan  pengguna melalui aplikasi yang dapat diakses oleh berbagai jenis gadget. Melalui gadgetnya, secara  interaktif  pengguna  juga  dapat  menjadi  sumber  data,  mereka  mengirim informasi ke pusat data untuk dikonsumsi oleh pengguna yang lain.

Konsep smart city:
1.  Sebuah  kota  berkinerja  baik  dengan  berpandangan  ke  dalam  ekonomi, penduduk, pemerintahan, mobilitas, lingkungan hidup
2.  Sebuah  kota  yang  mengontrol  dan  mengintegrasi  semua  infrastruktur termasuk jalan, jembatan, terowongan, rel, kereta bawah tanah, bandara, pelabuhan,  komunikasi,  air,  listrik,  dan  pengelolaan  gedung.  Dengan begitu  dapat  mengoptomalkan  sumber  daya  yang  dimilikinya  serta merencanakan  pencegahannya.  Kegiatan  pemeliharaan  dan  keamanan dipercayakan kepada penduduknya.
3.  Smart  city  dapat  menghubungkan  infrastuktur  fisik,  infrastruktur  IT, infrastruktur  social,  dan  bisnis  infrastruktur  untuk  meningkatkan kecerdasan kota.
4.  Smart city membuat kota lebih efisien dan layak huni
5. Penggunaan smart computing untuk membuat smart city dan fasilitasnya meliputi  pendidikan,  kesehatan,  keselamatan  umum,  transportasi  yang lebih cerdas, saling berhubungan dan efisien

A.     Jenis Smart City
Smart  city  dapat  didefinisikan  menjadi  6  jenis dimensi,  yaitu  :
a.       Smart Economy (ekonomi)
Ekonomi pintar (inovasi dan persaingan) : maksudnya ini adalah semakin tinggi inovasi-inovasi baru yag ditinkatkan maka akan menamnabah peluang usaha baru dan mningkatkan persaingan pasar usaha/modal.
b.      Smart Mobility (Transportasi)
Mobilitas pintar (transportasi dan infrastruktur) : Pengelolaan infrastruktur kota yang dikembangkan di masa depan merupakan sebuah sistern pengelolaan terpadu dan diorientasikan untuk menjamin keberpihakan pada kepentingan publik.
c.       Smart Governance  ( Pemerintahan Pintar)
Pemerintahan yang cerdas (pemberdayaan dan partisipasi). : Kunci utama keberhasilan penyelengaraan pemerintahan adalah Good Governance. Yaitu paradigma, sistem dan proses penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisipasi, transparansi, profesionalitas, dan akuntabilitas ditambah dengan komitmen terhadap tegaknya nilai dan prinsip “desentralisasi, daya guna, hasil guna, pemerintahan yang bersih, bertanggung jawab, dan berdaya saing”.
d.      Smart People (Orang/Masyarakat Pintar)
Masyarakat pintar (kreativitas dan modal sosial) : Pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik modal ekonomi (economic capital), modal manusia (human capital) maupun modal sosial (social capital). Kemudahan akses modal dan pelatihan-pelatihan bagi UMKM dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan mereka dalam mengembangkan usahanya. Modal sosial termasuk elemen-elemennya seperti kepercayaan, gotong royong, toleransi, penghargaan, saling memberi dan saling menerima serta kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan ekonomi melalui berbagai mekanisme seperti meningkatnya rasa tanggungjawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam proses demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat dan menurunnya tingkat kejahatan
e.       Smart Living ( Kualitas Hidup)
Cerdas hidup (kualitas hidup dan kebudayaan) : Berbudaya, berarti bahwa manusia memiliki kualitas hidup yang terukur (budaya). Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam artian selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian budaya pada manusia, secara langsung maupun tidak langsung merupakan hasil dari pendidikan. Maka kualitas pendidikan yang baik adalah jaminan atas kualitas budaya, dan atau budaya yang berkualitas merupakan hasil dari pendidikan yang berkualitas.
f.       Smart Environtment (Lingkungn)
Lingkungan pintar (keberlanjutan dan sumber daya) : lingkungan pintar itu berarti lingkungan yang bisa memberikan kenyamanan,Keberrlanjutan sumber daya,keindahan fisik maupun non fisik, visual maupun tidak,bagi masyarakat dan publik.lingkngan yang bersih tertata, RTH yang stabil merupakancontoh dari penerapan lingkungan yang pintar.
Enam  dimensi  itu  berhubungan  dengan  teori  regional  dan  neoklasik pertumbuhan  dan  pembangunan  perkotaan  tradisional.  Secara  khusus,  dimensi tersebut  didasarkan  pada  daya  saing  masing-masing  daerah,  seperti  transportasi, ICT, ekonomi, sumber daya alam, social, pemerintahan, dan lain-lain.
B.    Manfaat Smart City
Manfaat dari Smart City adalah sebagai berikut:
1.      Memperbaiki permasalahan di masyarakat
2.      Meningkat layanan public
3.      Menciptakan pemerintah yang lebih baik
4.      Mencerdaskan Masyarakat
5.      Mengelola potensi kota dan potensi SDM
C.    Elemen Utama Smart City
Ada 10 Element  utama Smart City antaranya:
E.     Infrastruktur
F.      Model
G.    Asset
H.    Perilaku
I.       Budaya
J.       Ekonomi
K.    Sosial
L.     Teknologi
M.   Politik
N.    Lingkungan
D.     Gambaran Smart City
E.     Point Penting dari Smart City
Ada 6 point penting dari Smart City, yaitu:
1.      Pengembangan dan pemanfaatan arsitektur jaringan computer.
2.      Keterbukaan informasi serta simulasi ekonomi dan keilmuan.
3.      Pengembangan inovasi dan kreatifitas masyarakat.
4.      Simulasi terhadap sisi enterprise dan kewirausahaan.
5.      Tatanan pemerintahan yang lebih partisipatif dan demokrasi
6.      Keseimbangan aspek lingkungan , social, dan ekonomi.
F.    Dimensi Smart City
Ada tiga dimensi pada Smart City, yaitu:
1.      Dimensi Teknologi
: Komputerasasi/ digital, smart/pintar, layanan selalu ada dan dapat diakses dimana- mana,terkoneksi ke jarinagan , dan dapat memberikan informasi.
2.      Dimensi people
: Kreatifitas, kemanuasiaan , pembelajaran dan transfer/berbagi ilmu , sumber ilmu pengetahuan dan riset
3.      Dimensi Community
: Tercipta komunitas dan masyarakat yang smart
G.    Karakteristik Aplikasi Smart City
aplikasi berbasis smart city mimiliki 6 karakteristik tertentu, yaitu:
1.      Sensible : melakukan sensor . Contoh : WSN,GIS
2.      Connectable : sensor terhubung ke aplikasi dan pengguna melalui jaringan computer
3.      Uniquitous : dapat diakses kapanpun dan dimanapun . Contoh: mobile
4.      Sociable : terhubung satu sama lain. Contoh: social media, social network
5.      Shareable : berbagi informasi ke jejaring
6.      Visivble/Augmented : informasi diakses secara fisik .Contoh : Augmented reality
H.       Level Penerapan Smart City
Menurut Prof Suhono STEI ITB , ada 6 level penerapan Smart city, yaitu diantaranya:
a.       Level 0 : masih kota biasa, ada potensi menjadi smart city
b.      Level 1 : mulai menjadi smart city , tersedianya internet secara menyeluruh.
c.       Level 2 : Setiap kota saling terhubung (MAN = Metropolitan Area Network)
d.      Level 3 :open informasi dan open data (bertukar informasi/ data) antar kota secara online
e.       Level 4 : tiap kota memiliki informasi penting tersendiri dan nilai penting didalamnya.
f.       Level 5 : integrasi yang baik antar kota ( kombinasi dari level 2,3,dan 4)
I.      Teknologi- teknologi pendukung Smart City
1.      Cloud computing :IASS,PAAS,SAAS
2.      Control : machine to machine / internet of Things (M2M/IOT)
3.      Monitoring : Wireless Sensor Network (WSN)
4.      Authentication : security Network (Client server, peer to peer)
5.      Sensing : Wireless Sensor Network (WSN), Geographik Information System(GIS), Inteligence Transport System (ITS)
J.    Keamanan Layanan Smart City
Terdapat tiga keamanan layanan Smart City , yaitu:
a.       Sistem ( Sistem )
: Perangkat keras ( computer server,router,gateway,hotspot), perangakat lunak ( system informasi, aplikasi, plugin)
b.      Kebijakan ( Police , standarisasi )
: ISO 27001, Cloud Security Alliance, COBIT, ITIL (Information Techonogy Infrastruktur Library)
c.       Pengguna ( User)
: Aturan ditaati, peduli (aware), ergantian password berkala, sosial engineering
K.   Faktor –Faktor Penunjang Konsep Smart City
Faktor-faktor penunjang konsep Smart City:
1. managemen organisasi pemerintahan
2. ada teknologi mutakhir yang lebih efisien
3. ada kebijakan dari pemerintah
4. masyarakat modern yang mau menerima perubahan
5. ekonomi perkotaan mencapai standar menengah ke atas
6. ada infrastruktur yang menunjang
7. lingkungan yang mendukung
L.    Tahapan /Proses untuk mencapai suatu kota dengan konsep smart City
Tahapan atau proses untuk mencapai suatu kota dengan konsep Smart City, yaitu:
a.       Meyusun data secara manual
b.      Mengkonversikan semua data menjadi data digital
c.       Penggunaan konsep secara sektoral
d.      Penggunaan sistem informasi teritergrasi (Indonesia baru sampai tahap ini).


0 komentar :

Post a Comment