Perencanaan Smart
City adalah agenda
global sebagai respon
konseptual dan praktis terhadap
berbagai krisis perkotaan
di dunia yang
semakin mengkhawatirkan,
untuk mengembalikan hubungan
antara manusia, ruang binaan
dan ruang alami
yang lebih harmonis,
sehingga tidak saling
menyakiti. Melalui Smart City,
tujuan-tujuan pembangunan perkotaan berkelanjutan
dapat dicapai secara sistematis
dan bertahap dengan perspektif jangka panjang.
Asumsi
dasar yang digunakan
sehingga pemikiran mengenai
Smart City layak untuk
dikedepankan menyangkut hal-hal berikut :
a.
Kota-kota
Indonesia perlu secara
cermat mengatasi persoalan
ledakan penduduk perkotaan akibat
urbanisasi yang brutal,
tidak tertahankan, apabila kita
berharap bahwa kota-kota tersebut dapat menjadi layak huni di masa
mendatang. Salah satunya
adalah dengan pengendalian
jumlah penduduk dan redistribusinya, serta
peningkatan kualitas pelayanan publik.
b.
Krisis perkotaan
dapat kita hindari,
sebagaimana yang terjadi
di kotakota besar
dan metropolitan yang
telah mengalami obesitas
perkotaan, apabila kita mampu
menangani perkembangan kota-kota
kecil dan menengah secara
baik, antara lain
dengan penyediaan ruang
terbuka hijau, pengembangan jalur
sepeda dan pedestrian,
pengembangan kota kompak, dan
pengendalian penjalaran kawasan pinggiran.
Smart city adalah sebuah impian dari
hampir semua Negara di dunia. Dengan smart
city, berbagai macam
data dan informasi
yang berada di
setiap sudut kota dapat
dikumpulkan melalui sensor
yang terpasang di
setiap sudut kota,
dianalisis dengan aplikasi cerdas,
selanjutnya disajikan sesuai
dengan kebutuhan pengguna melalui aplikasi yang dapat diakses
oleh berbagai jenis gadget. Melalui gadgetnya, secara interaktif
pengguna juga dapat
menjadi sumber data,
mereka mengirim informasi ke
pusat data untuk dikonsumsi oleh pengguna yang lain.
Konsep
smart city:
1. Sebuah kota
berkinerja baik dengan
berpandangan ke dalam
ekonomi, penduduk, pemerintahan, mobilitas, lingkungan hidup
2. Sebuah kota
yang mengontrol dan
mengintegrasi semua infrastruktur termasuk jalan, jembatan,
terowongan, rel, kereta bawah tanah, bandara, pelabuhan, komunikasi,
air, listrik, dan
pengelolaan gedung. Dengan begitu
dapat mengoptomalkan sumber
daya yang dimilikinya
serta merencanakan pencegahannya. Kegiatan
pemeliharaan dan keamanan dipercayakan kepada penduduknya.
3. Smart city
dapat menghubungkan infrastuktur
fisik, infrastruktur IT, infrastruktur social,
dan bisnis infrastruktur
untuk meningkatkan kecerdasan
kota.
4. Smart city membuat kota
lebih efisien dan layak huni
5. Penggunaan smart computing untuk membuat smart city dan
fasilitasnya meliputi pendidikan, kesehatan,
keselamatan umum, transportasi
yang lebih cerdas, saling berhubungan dan efisien
A. Jenis Smart
City
Smart city dapat
didefinisikan menjadi 6 jenis
dimensi, yaitu :
a.
Smart Economy
(ekonomi)
Ekonomi pintar (inovasi dan
persaingan) : maksudnya ini adalah semakin tinggi inovasi-inovasi baru yag
ditinkatkan maka akan menamnabah peluang usaha baru dan mningkatkan persaingan
pasar usaha/modal.
b.
Smart
Mobility (Transportasi)
Mobilitas pintar
(transportasi dan infrastruktur) : Pengelolaan infrastruktur kota yang
dikembangkan di masa depan merupakan sebuah sistern pengelolaan terpadu dan
diorientasikan untuk menjamin keberpihakan pada kepentingan publik.
c.
Smart
Governance (
Pemerintahan Pintar)
Pemerintahan yang cerdas
(pemberdayaan dan partisipasi). : Kunci utama keberhasilan penyelengaraan
pemerintahan adalah Good Governance. Yaitu paradigma, sistem dan proses
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip
supremasi hukum, kemanusiaan, keadilan, demokrasi, partisipasi, transparansi,
profesionalitas, dan akuntabilitas ditambah dengan komitmen terhadap tegaknya
nilai dan prinsip “desentralisasi, daya guna, hasil guna, pemerintahan yang
bersih, bertanggung jawab, dan berdaya saing”.
d.
Smart
People (Orang/Masyarakat Pintar)
Masyarakat pintar
(kreativitas dan modal sosial) : Pembangunan senantiasa membutuhkan modal, baik
modal ekonomi (economic capital), modal manusia (human capital)
maupun modal sosial (social capital). Kemudahan akses modal dan
pelatihan-pelatihan bagi UMKM dapat meningkatkan kemampuan dan ketrampilan
mereka dalam mengembangkan usahanya. Modal sosial termasuk elemen-elemennya
seperti kepercayaan, gotong royong, toleransi, penghargaan, saling memberi dan
saling menerima serta kolaborasi sosial memiliki pengaruh yang besar terhadap
pertumbuhan ekonomi melalui berbagai mekanisme seperti meningkatnya rasa
tanggungjawab terhadap kepentingan publik, meluasnya partisipasi dalam proses
demokrasi, menguatnya keserasian masyarakat dan menurunnya tingkat kejahatan
e.
Smart
Living ( Kualitas Hidup)
Cerdas hidup (kualitas
hidup dan kebudayaan) : Berbudaya, berarti bahwa manusia memiliki kualitas
hidup yang terukur (budaya). Kualitas hidup tersebut bersifat dinamis, dalam
artian selalu berusaha memperbaiki dirinya sendiri. Pencapaian budaya pada
manusia, secara langsung maupun tidak langsung merupakan hasil dari pendidikan.
Maka kualitas pendidikan yang baik adalah jaminan atas kualitas budaya, dan
atau budaya yang berkualitas merupakan hasil dari pendidikan yang berkualitas.
f.
Smart
Environtment (Lingkungn)
Lingkungan pintar
(keberlanjutan dan sumber daya) : lingkungan pintar itu berarti lingkungan yang
bisa memberikan kenyamanan,Keberrlanjutan sumber daya,keindahan fisik maupun
non fisik, visual maupun tidak,bagi masyarakat dan publik.lingkngan yang bersih
tertata, RTH yang stabil merupakancontoh dari penerapan lingkungan yang pintar.
Enam
dimensi itu berhubungan
dengan teori regional
dan neoklasik pertumbuhan dan
pembangunan perkotaan tradisional.
Secara khusus, dimensi tersebut didasarkan
pada daya saing
masing-masing daerah, seperti
transportasi, ICT, ekonomi, sumber daya alam, social, pemerintahan, dan
lain-lain.
B. Manfaat
Smart City
Manfaat dari Smart City adalah sebagai berikut:
1.
Memperbaiki
permasalahan di masyarakat
2.
Meningkat
layanan public
3.
Menciptakan
pemerintah yang lebih baik
4.
Mencerdaskan
Masyarakat
5.
Mengelola
potensi kota dan potensi SDM
C. Elemen
Utama Smart City
Ada 10 Element utama Smart
City antaranya:
E. Infrastruktur
F.
Model
G. Asset
H. Perilaku
I.
Budaya
J.
Ekonomi
K. Sosial
L. Teknologi
M. Politik
N. Lingkungan
D. Gambaran
Smart City
E. Point
Penting dari Smart City
Ada 6 point penting dari Smart City, yaitu:
1.
Pengembangan
dan pemanfaatan arsitektur jaringan computer.
2.
Keterbukaan
informasi serta simulasi ekonomi dan keilmuan.
3.
Pengembangan
inovasi dan kreatifitas masyarakat.
4.
Simulasi
terhadap sisi enterprise dan kewirausahaan.
5.
Tatanan
pemerintahan yang lebih partisipatif dan demokrasi
6.
Keseimbangan
aspek lingkungan , social, dan ekonomi.
F. Dimensi
Smart City
Ada tiga dimensi pada Smart City, yaitu:
1.
Dimensi
Teknologi
:
Komputerasasi/ digital, smart/pintar, layanan selalu ada dan dapat diakses
dimana- mana,terkoneksi ke jarinagan , dan dapat memberikan informasi.
2.
Dimensi
people
:
Kreatifitas, kemanuasiaan , pembelajaran dan transfer/berbagi ilmu , sumber
ilmu pengetahuan dan riset
3.
Dimensi
Community
:
Tercipta komunitas dan masyarakat yang smart
G. Karakteristik
Aplikasi Smart City
aplikasi berbasis smart city mimiliki 6 karakteristik tertentu,
yaitu:
1.
Sensible :
melakukan sensor . Contoh : WSN,GIS
2.
Connectable
: sensor terhubung ke aplikasi dan pengguna melalui jaringan computer
3.
Uniquitous
: dapat diakses kapanpun dan dimanapun . Contoh: mobile
4.
Sociable :
terhubung satu sama lain. Contoh: social media, social network
5.
Shareable :
berbagi informasi ke jejaring
6.
Visivble/Augmented
: informasi diakses secara fisik .Contoh : Augmented reality
H. Level
Penerapan Smart City
Menurut Prof Suhono STEI ITB , ada 6 level penerapan Smart city,
yaitu diantaranya:
a.
Level 0 :
masih kota biasa, ada potensi menjadi smart city
b.
Level 1 :
mulai menjadi smart city , tersedianya internet secara menyeluruh.
c.
Level 2 :
Setiap kota saling terhubung (MAN = Metropolitan Area Network)
d.
Level 3 :open
informasi dan open data (bertukar informasi/ data) antar kota secara online
e.
Level 4 :
tiap kota memiliki informasi penting tersendiri dan nilai penting didalamnya.
f.
Level 5 :
integrasi yang baik antar kota ( kombinasi dari level 2,3,dan 4)
I. Teknologi-
teknologi pendukung Smart City
1.
Cloud
computing :IASS,PAAS,SAAS
2.
Control :
machine to machine / internet of Things (M2M/IOT)
3.
Monitoring
: Wireless Sensor Network (WSN)
4.
Authentication
: security Network (Client server, peer to peer)
5.
Sensing :
Wireless Sensor Network (WSN), Geographik Information System(GIS), Inteligence
Transport System (ITS)
J. Keamanan
Layanan Smart City
Terdapat tiga keamanan layanan Smart City , yaitu:
a.
Sistem (
Sistem )
:
Perangkat keras ( computer server,router,gateway,hotspot), perangakat lunak (
system informasi, aplikasi, plugin)
b.
Kebijakan (
Police , standarisasi )
:
ISO 27001, Cloud Security Alliance, COBIT, ITIL (Information Techonogy Infrastruktur
Library)
c.
Pengguna (
User)
:
Aturan ditaati, peduli (aware), ergantian password berkala, sosial engineering
K. Faktor
–Faktor Penunjang Konsep Smart City
Faktor-faktor penunjang
konsep Smart City:
1. managemen organisasi
pemerintahan
2. ada teknologi
mutakhir yang lebih efisien
3. ada kebijakan dari
pemerintah
4. masyarakat modern
yang mau menerima perubahan
5. ekonomi perkotaan
mencapai standar menengah ke atas
6. ada infrastruktur
yang menunjang
7. lingkungan yang
mendukung
L. Tahapan
/Proses untuk mencapai suatu kota dengan konsep smart City
a.
Meyusun data secara manual
b.
Mengkonversikan semua data menjadi data digital
c.
Penggunaan konsep secara sektoral
d. Penggunaan sistem
informasi teritergrasi (Indonesia baru sampai tahap ini).

0 komentar :
Post a Comment